Dilema Saat Pemilu Tiba - Mau Pilih Siapa?

masnasih.com - Saya adalah orang yang tidak paham tentang perkembangan politik di negara ini terlebih lagi di dunia. Hanya melalui berita saya mencoba untuk menampung informasi satu persatu ditambah dengan pengetahuan lain yang nantinya akan digunakan untuk memfilter siapa calon yang tepat untuk dipilih. Pengetahuan agama juga tak luput ikut andil dalam bagian ini, namun juga tidak 100% kontribusinya karena hukum positif dan hukum adat juga ikut andil.

Ketidaktahuan tentang perkembangan politik inilah yang membuat saya bingung dalam menentukan pilihan ditambah lagi apabila calon yang akan dipilih ternyata tidak cocok semua dalam kriteria idealnya. Terkadang saya lebih suka memilih tidak memilih dan pasrah dengan apa yang akan terjadi dan mengiringinya dengan doa, semoga yang menang adalah orang yang memang pantas untuk memimpin dan dapat menjalankan amanatnya dengan baik ikhlas tanpa pamrih.

Adanya orang yang terlalu fanatik hanya ada 2 alasan. Dia sangat tahu betul siapa yang akan dipilih, dan dia termakan isu murahan sehingga berpikir bahwa yang ia pilih adalah orang yang paling benar sedangkan yang tidak dipilih adalah orang yang harus ditumbangkan dengan alasan berbahaya, padahal sebenarnya ia tidak tahu apa-apa alias hanya ikut-ikutan.

Memilih pemimpin harus memperhatikan beberapa faktor dari sisi yang berbeda. Maka tak heran jika banyak orang yang berselisih dan berbeda pilihan, semua itu karena pengetahuan yang mereka miliki juga berbeda-beda.

Orang yang melihat calon pemimpin dari banyak sisi akan bersikap lebih dewasa daripada orang yang melihat calon pemimpin hanya dari  beberapa sisi saja. Bersikap dewasa artinya santai dan tidak menggebu-gebu dalam memilihnya, ia akan menghargai apa yang orang lain pilih dan tidak menjelek-jelekkan pilihan orang lain terlebih lagi memaksa orang lain untuk memilih.

Pemilu adalah hak individu, maka ketika memaksa orang lain untuk memilih calon tertentu sama artinya merampas hak orang lain. Menggiring opini positif tak ada salahnya, tetapi membawa opini negatif dengan cara menjelek-jelekkan salah satu atau sebagian calon adalah salah besar karena akan menimbulkan kebencian yang mendalam ke hati para orang yang tak tahu apa-apa.

Ketika kebencian sudah masuk ke dalam hatinya, maka kebaikan sebesar apapun akan dinilai jelek orang orang tersebut apalagi kejelekannya tentunya akan menambah besar kebenciannya.

Akan lebih bijak jika memberikan masukan-masukan positif agar tak ada kebencian yang terbentuk. Jika memang tidak ada masukan positif yang perlu disampaikan lebih baik diam karena itu lebih aman dan terhindar dari fitnah.

Wallahu A'lam.



Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar