Garis Takdir Yang Tak Pernah Bisa Ditaklukkan Ia Hanya Bisa Diminimalisirkan

masnasih.com - Pertanyaan : Soal masalah tidur. Di sepanjang malam atau saat-saat aku udah capek dan ketiduran katakanlah, aku jarang banget ngerasain rasanya bener-bener istirahat. Aku terganggu sama mimpi-mimpiku. Sampai kadang ngerasa sepanjang tidur itu ya aku mimpi. Makin kesini tak rasa-rasain mimpi-mimpi itu tuh dari masalah-masalahku, dari kekhawatiranku, sampai hal-hal sepele yg besok akan dilakukan. Itu kebawa sampe mimpi. Bingung. Kok aku sampe sebegininya.

Jawaban : Ah. Itu memang masalah. Terlebih lagi kalau kamu emang bener2 selalu memikirkan masalah-masalah itu.

Aku juga merasakan saat pikiran lelah dan masalah tak kunjung usai.

Dan aku rasa memang disitu ada garis takdir yang tak bisa dipisahkan, tapi mungkin bisa diminimalisirkan dengan hal-hal sederhana.

Oke akan aku coba jelaskan secara sederhana.

Meraih sebuah impian ibaratnya kita ingin pergi ke suatu tempat.

Nah, di ibaratkan sekarang kita masih di jalan.

Perjalanan menuju tempat itu mungkin bisa lancar, bisa macet, bisa lewat pegunungan, bisa lewat jeglongan sewu, dsb.

Sedangkan kita sekarang ini katakanlah sudah tahu tujuannya menggunakan google map. Kita sudah tahu mau melewati mana saja. Tetapi data google map itu kan nggak update tiap hari.

Nah, jadi kalo kita mau lewat kesitu mesti ambil risiko. Bisa jadi jalannya sudah rusak, atau ada pohon tumbang di jalan, dan berbagai halangan lainnya yang tidak bisa kita prediksi.

Aku menyebut hal yang tak bisa diprediksi inilah merupakan garis takdir. Kita tidak bisa keluar dari situ. Kita pasti akan ketemu yang namanya garis itu.

Di saat ini yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa semua memang harus terjadi.

Lalu kita tinggal pilih. Mau menikmatinya atau justru marah-marah galau tak jelas?

Nah, disinilah proses meminimalisir ada pada pilihan itu. Jika kita memilih untuk menikmatinya, maka takdir itu tetap ada namun tak membuat kita frustasi atau minimal frustasinya jadi terminimalisir.

Lalu cara menikmatinya gimana.

Kita bisa santai ya, namanya ada halangan yang nggak bisa diterobos gimana lagi kan. Kita bisa menunggu. Atau sekedar cari hiburan lain di situ, foto-foto, menikmati pemandangan, dsb.

Oke. Mungkin itu bagus kalo pas di daerah pegunungan.

Terus kalo pas di kota gimana?

Macet, panas, nggak bisa gerak kemana-mana?

Nah, itu berarti sudah masuk ke takdir nggak nggak bisa dialihkan. Gimana cara menikmatinya?

Tentu butuh pemahaman spiritual yang cukup tinggi. Orang tanpa pemahaman spiritual tentu akan lebih frustasi dengan hal ini. Tapi kalo yang setidaknya masih berpegang teguh pada agama, tentu akan lebih bisa bersabar dan tidak menyalahkan keadaan.

Jadi, sampe sini paham?



Previous
« Prev Post