Tak Bisa Dipungkiri Bahwa Kita Berada Di Tepi Jurang Kehancuran

masnasih.com - Manusia adalah makhluk yang rentan dengan hal-hal yang menurut pikirannya enak. Dalam kata lain, manusia itu suka dengan sesuatu yang serba enak, bahkan mungkin tak ingin hidupnya sengsara sedikitpun. Berada di dalam lingkaran comfort zone itulah pencapaian besar manusia walaupun sebagian darinya memilih untuk keluar dari lingkaran tersebut. Namun, apapun upaya yang dilakukan oleh manusia, itu tak lain semata-mata untuk mencari sebuah ketenangan lahir batin.

Mungkin akan lebih enak jika kata manusia saya ganti dengan kata kita saja ya?

Iya, memang tak bisa dipungkiri setiap sesuatu yang membuat gaduh, menyusahkan, menangis, sakit, dsb; pasti akan kita anggap sebagai masalah. Anggapan masalah dalam hal ini menunjukkan bahwa patokan masalah selesai ada pada sebuah ketenangan, kedamaian, kerukunan, kemesraan, dsb yang itu semua adalah berada di lingkaran comfort zone.

Sesuatu yang enak itu bisa saja baik bisa saja tidak. Kita ambil contoh, memetik buah mangga di pohonnya milik tetangga itu enak kan? Tidak nanem pohon, pas berbuah tinggal metik aja. Ya. Tentu itu enak dan praktis, tetapi masalahnya tidak semudah itu. Memetik buah milik tetangga tanpa izin itu namanya maling, salah satu bentuk kejahatan karena mengambil hak orang lain tanpa sepengetahuannya.

Oke. Poin pertama yang perlu kamu ingat adalah kita suka yang enak, praktis, tidak ribet, langsung jadi, dan semacamnya. Poin keduanya, sesuatu yang enak dan praktis itu belum tentu baik.

Dua poin itu cukup untuk menjelaskan inti dari artikel ini. Namun akan saya perjelas lagi sedikit.

Setelah ada poin satu dan dua, kita perlu ingat juga bahwa di dunia ini ada yang namanya "peluang." Peluang bisa berupa kebaikan dan bisa berupa keburukan. Dan sayangnya peluang kebaikan cenderung menawarkan hal-hal yang menurut kita sepele, kurang menarik, atau bahkan membahayakan diri kita sendiri; tidak enaklah intinya. Misalnya bangun tidur malam hari. Kita tahu malam hari ada beberapa waktu yang spesial untuk sholat tahajud misalnya, atau untuk berdzikir. Tapi biasanya ya, biasanya kita lebih memilih menarik selimut lagi kan? Ya maksudnya tidur lagi.

Sedangkan peluang kejahatan banyak menawarkan sesuatu yang serba enak, atau setidaknya banyak enaknya dibandingkan dengan tidaknya. Misalnya lagi jalan-jalan di depan lihat ada orang yang jalan tiba-tiba dompetnya jatuh dan dia terus saja berjalan tanpa merasa kehilangan. Nah, disini kita punya peluang dua, yaitu jahat dan baik. Seperti yang saya katakan di atas bahwa kejahatan cenderung menawarkan yang enak-enak dan kebaikan lebih menawarkan yang nggak enak.

Sebagai manusia normal tentu akan menyadari betul bahwa antara ikhlas nggak ikhlas ya kalo lihat dompet itu ternyata isinya uang yang nilainya $$$. Di saat inilah kita akan memilih, memilih untuk berbuat baik, atau justru sebaliknya.

Saya kira sudah paham sampai sini. Tapi akan saya perjelas lagi. Kita masih berbicara tentang dompet jatuh.

Mungkin jika kejadian dompet jatuh itu cuma sekali, kita masih sadar diri dan berbuat baik sesuai dengan pengetahuan yang kita miliki bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya itu salah. Namun, jika kejadiannya berkali-kali, kita mendapatkan peluang yang sama atau lebih besar dari itu dan saat itu kondisi kita sedang tidak baik, misalnya keuangan masih bermasalah dsb. Apakah kita masih bisa bertahan? Ya, bisa saja iya bisa saja tidak.

Nah, sekarang sudah jelas. Bahwa kita sekarang ini sebenarnya berada di tepi jurang.

Loh bukannya kalau ada kesempatan saja?

Ya, dengan adanya gadget yang selalu ada digenggaman kita inilah tepi jurang selalu ada. Tak perlu saya jelaskan lebih panjang, karena semua sudah tahu bahwa gadget ibarat pisau bisa digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya. Dan kabar buruknya, kita selalu mendapatkan peluang yang tidak baik setiap saatnya, terlebih lagi jika kita terhubung dengan internet, tepi itu jelas akan terlihat.

Maka, bijaklah dalam berkendara 😊



Previous
« Prev Post